proposal uji kualitas mikrobiologi dendeng sapi asap
PROPOSAL
KUALITAS MIKROBIOLOGI DENDENG ASAP DENGAN
MENGGUNAKAN
DAGING SAPI SETELAH PENGASAPAN

Diajukan
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar
Ahli Madya Analis Kesehatan Pada
STIKes
Mega Rezky Makassar
ABDUL FAQIH SUGIMAN
NIM : 14 3145 453 093
PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN
STIKes MEGA REZEKY MAKASSAR
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dewasa ini permintaan daging sapi di tengah
masyarakat yang terus meningkat harus diimbangi melalui usaha penanganan pasca
panen yang memadai, sehingga produksi daging yang dihasilkan tidak terbuang
termasuk akibat kerusakan secara mikrobiologis.( Jaya, 2014 )
Bahan pangan
dapat berperan sebagai agen penularan penyakit dari mikroorganisme ke manusia.
Bahan pangan tersebut bertindak sebagai vektor dari beberapa jenis
mikroorganisme patogenik yang mencemari bahan pangan. Pengawetan dan pengolahan daging menjadi berbagai produk
olahan bertujuan untuk mengurangi penurunan kualitas sekaligus memberi nilai
tambah pada produk daging yang dihasilkan. Dendeng asap yang dikenal
masyarakat, selama ini umumnya berasal dari daging sapi.( Jahidin,
2014 )
Pengolahan makanan dengan cara
pengasapan merupakan salah satu cara pengolahan yang dapat menghasilkan cita
rasa, aroma dan warna yang khas pada produk yang dihasilkannya dan banyak
digemari oleh masyarakat. Proses produksi secara tradisional sering
menghasilkan produk yang bervariasi kualitasnya, untuk itu diperlukan upaya
standarisasi terkait dengan proses pembuatan dendeng asap sehingga akan
dihasilkan produk dengan kualitas yang lebih homogen dan terjamin keamanannya.(
Himawati, 2012 )
Pengawetan dan pengolahan daging menjadi
berbagai produk olahan bertujuan untuk mengurangi penurunan kualitas sekaligus
memberi nilai tambah pada produk daging yang dihasilkan. Metode pengasapan
dendeng asap di masyarakat masih dilakukan secara beragam disesuaikan dengan
selera pembuatnya, kondisi ini tentu dapat berdampak pada kualitas produk yang
ada, sehingga dikhawatirkan dendeng yang dihasilkan dapat mengalami penurunan
kualitas secara mikrobiologi.( Jahidin, 2012 )
Dendeng asap setelah diolah tidak selalu
langsung dikonsumsi tapi sering disimpan dalam jangka waktu tertentu yang
tentunya dapat mempengaruhi kelayakan untuk konsumsi akibat adanya penurunan
kualitas secara mikrobiologi seperti kontaminasi dengan lingkungan yang kurang
bersih.( Putra, 2013 )
Ketahanan
mikroorganisme maupun enzim-enzim yang terdapat didalam sel mikrorganisme
berbeda terdapat berbagai proses pengawetan dan pengolahan. Contohnya,
penyimpanan makan pada suhu rendah pada umumnya dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme, tetapi suhu penyimpanan tersebut bahkan dapat merangsang
pertumbuhan mikroorganisme yang tergolong psikrofilik yang dapat menyebabkan
kebusukan makanan. Begitu juga dalam penambahan garam pada umumnya dapat
menghambat kebanyakan mikroorganismem tetapi dapat merangsang pertumbuhan
bakteri halofilik yang sering menyebabkan perubahan warna pada bahan pangan.
Pangan dapat menjadi racun karena telah terkontaminasi oleh bakteri patogen
yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang biak selama penyimpan, sehingga mampu
memproduksi toksin yang dapat membahayakan manusia. ( Febriany,2015 )
Berdasarkan
uraian di atas, maka diperlukan penelitian terhadap mutu dendeng asap daging
sapi.
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini penulis mencoba
merumuskan persoalan dalam bentuk pertanyaan :
1. Apakah
daging sapi yang telah di asapkan dengan tempurung kelapa yang disimpan dalam
waktu beberapa hari akan mempengaruhi
mutu kelayakan mikrobiologi ?
2. Apakah
daging sapi yang telah di asapkan dengan serbuk kayu yang disimpan dalam waktu
beberapa hari akan mempengaruhi mutu kelayakan
mikrobiologi ?
C.
TUJUAN
PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk
mengetahui mutu dan kualitas mirobiologi daging sapi yang telah diasapkan
dengan tempurung kelapa ( dendeng sapi ) yang disimpan dalam waktu beberapa
hari.
2. Untuk
mengetahui mutu dan kualitas mikrobiologi daging sapi yang telah diasapkan
dengan serbuk kayu ( dendeng sapi ) yang disimpan dalam waktu beberapa hari.
D.
MANFAAT
PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat
Akademis
Penelitian ini erat
hubungannya dengan mata kuliah bakteriologi, sehingga dengan melakukan
penelitian ini diharapkan peniliti dan semua pihak yang berkepentingan dengan
hal ini dapat lebih memahaminya dengan baik.
2. Manfaat
Dalam Implemestasi Atau Praktek
Penelitian ini
memfokuskan kepada masyarakat sebagai objek penelitian, sehingga diharapkan
masyarakat agar dapat mengambil hasil penelitian ini sebagai pedoman cara untuk
menjaga kualitas mikrobiologi dari daging yang telah di asapkan ( dendeng ).
3. Manfaat
untuk Institusi
Menambah kepustkaan bagi institusi
dan diharapkan menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN UMUM TENTANG MIKROBIOLOGI
PANGAN
1. Definisi
Mikrobiologi pangan
Pangan
adalah segala sesuatu yang berasal dari sumebr hayati dan air, baik yang diolah
maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi
konsumsi manusia termasuk tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain
yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan
atau minuman. Mengingat definisi pangan memiliki cakupan yang luas, maka upaya
untuk mencegah pangan dari kemungkinan tercemar oleh mikroorganisme yang
mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Pangan merupakan
kebutuhan esensial bagi setiap manusia untu pertumbuhan maupun mempertahankan
hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan.
(Febriany,2015 )
Mikroorganisme
merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran yang sangat kecil. Setiap tunggal
mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan
antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energy dan berproduksi
dengan sendirinya. Mikroorganime adalah makhluk-makhluk kecil yang hanya dapat
dilihat dengan mikroskop. Banyak virus, bakteri dan jamur menyerang makanan
yang masih berupa bahan mentah seperti sayur-sayuran, buah-buahan, susu,
daging, banyak pula yang menyerang makanan yang sudah dimasak.
Mikrobiologi
pangan adalh ilmu yang mempelajari pengaruh proses pengolahan terhadap sel
miroorganisme, termasuk mekanisme ketahanan mikroorganisme terhadap proses
pengolahan. Disamping itu, ilmu mikrobiologi pangan merupakan ilmu yang juga
mempelajari perubahan-perubahan yang merugikan seperti kebusukan dan keracunan
makanan, maupun perubahan-perubahan yang menguntungkan seperti dalam fermentasi
makanan. Pangan dapat menjadi racun karena telah terkontaminasi oleh bakteri
patogen yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang biak selama penyimpan,
sehingga mampu memproduksi toksin yang dapat membahayakan manusia. ( Muthia,
2015 )
Proses
pengolahan dan pengawetan makanan tidak sepenuhnya dapat mencegah semua
perubahan-perubahan yang merugikan. Contohnya, pada makanan-makanan yang telah
diawetkan dengan pembekuan atau pengeringan, enzim-enzim yang terdapat dalam
bahan pangan masih mungkin aktif yang menyababkan perubahan warna, tekstur
mupun citarasa dari suatu produk. Hal ini menunjukan sebelum produk pangan
mengalami proses pembekuan atau pengeringan sebaiknya dilakukan proses
pendahuluan dan pemanasan, seperti blansir yang berguna untuk menginaktifkn
enzim-enzim yang terdapat dalam bahan pangan mentah.
Ketahanan
mikroorganisme maupun enzim-enzim yang terdapat didalam sel mikrorganisme
berbeda terdapat berbagai proses pengawetan dan pengolahan. Contohnya,
penyimpanan makan pada suhu rendah pada umumnya dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme, tetapi suhu penyimpanan tersebut bahkan dapat merangsang
pertumbuhan mikroorganisme yang tergolong psikrofilik yang dapat menyebabkan
kebusukan makanan. Begitu juga dalam penambahan garam pada umumnya dapat
menghambat kebanyakan mikroorganismem tetapi dapat merangsang pertumbuhan
bakteri halofilik yang sering menyebabkan perubahan warna pada bahan pangan.(
Febriany, 2015 )
Tidak
saja ketahanan mikroorganisme dalam bahan pangan yang berbeda, karakteristik
dalam masing-masing produk pangan adalah berbeda, dimana sifat tersebut dapat
mempengaruhi komposisi dari bahan pangan, cara pengolahan, dan kondisi penyimpanan.
Hal ini menunjukan bahwa sifat mikrobiologi pada setiap produk berbeda dan
sangat spesifik. Sesuai dengan Standar Nasional Indonesia ( SNI ) tahun 2009,
setiap bahan pangan mempunyai batas cemaran mikroba. Sama halnya dengan Dendeng
sapi, memiliki batas cemaran mikroba yaitu 1 × 105 koloni/gram.
2. Mikroba
Dalam Pangan
Mikroorganime
dapat menyebabkan foodborne infection atau infeksi bawaan makanan. Makanan berperan
sebagai vector dan mikroorganisme yang berhasil masuk akan berkembang biak
didalam usus manusia. Kontaminasi makanan dapat terjadi akibat agen penyakit
yang menyebabkan infeksi atau akibat proses pembusukan. Pembusukan dapat
terjadi secara alami akibat enzim-enzim yang dalam makanan iru sendiri. (
Muthia, 2015 )
Adapun
beberapa mikroba yang mencemari dan masuk ke dalam makanan atau bahan pangan
yang terdapat dalam batas maksimum cemaran mikroba dalam bahan pangan dengan
kategori kondimen dan bumbu lainnya menurut Standar Nasional Indonesia yaitu :
a. Salmonella sp
Salmonella merupakan
salah satu bakteri pathogen penyebab infeksi saluran pencernaan. Bakteri ini
masuk ke dalam saluran pencernaan manusia melalui makanan yang tercemar yang
dikonsumsi oleh manusia. Salmonella memiliki ciri-ciri sel berbentuk batang, tidak
berspora, gram negative, fakultatif anaerob, dapat memfermentasikan glukosa,
maltose, manitol, dan dekstrin menjadi asam atau gas, tidak memfermentasikan
laktosa, sukrosa dan salisin.( Muthia, 2015 )
Klasifikasi
bakteri Salmonella sp
Domain : Bacteria
Filum : Protebacteria
Kelas : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteria
Family : Enterobacteriaceace
Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella
typhi dan Salmonella paratypi

Gambar.2.1.
Bakteri Salmonella sp
b. Escherichia Coli
Escherichia Coli merupakan kuman dari kelompok gram negative
berbentuk batang dari pendek sampai coocus saling terlepas antara satu dengan
lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua ( diplosabil ) da nada juga yang
bergandeng seperti seperti rantai pendek, tetapi, tidak membentuk spora maupun
kapsula, berdiameter 1,1 – 1,5 x 2,0-6,0 µm, dapat bertahan dari medium
sederhana dan memfermentasikan laktosa, menghasilkan asam dan gas.(
Febriany,2015 )
Klasifikasi
bakteri Escherichia coli
Domain : Bacteria
Filum : Protebacteria
Kelas : Gammaprotebacteria
Ordo : Enterobacterialess
Family : Enterobacteriaceae
Henus : Escharichia
Spesies : Escherichia
coli

Gambar.2.2. Bakteri Escherichia Coli
c.
Staphylococcus
Aureus
Staphylococcus aureus adalah
salah satu bakteri penyebab keracunan yang memproduksi enterotoksin. Bakteri
ini sering ditemukan pada makanan-makanan yang mengandung protein tinggi,
misalnya sosis, telu, dan daging kering contohnya abon ikan, atau sebagainya. Bakteri ini pada umumnya
memproduksi koagulasi sehingga dapat dibedakan atas beberapa grup berdasarkan
sifat imunitas koagulasinya, yaitu koagulasi tipe I sampai VIII. ( Indah, 2015
)
Klasifikasi
bakteri Staphylococcus aureus
Kingdom : Bacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Cocci
Ordo : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Species : Staphylococcus aureus

Gambar.2.3.
Bakteri Staphylococcus Aureus
d.
Bacillus
cereus
Bacillus cereus adalah
bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan oleh enterotoksin yang
terdapat pada makanan seperti nasi yang telah dimasak tetapi kemudian ditaruh
ditempat yang hangat sehingga terjadi sporulasi dan terbentuklah toksin itu.
Dapat menyebabkan pneumonia, broncopneumonia dan luka. ( Muthia, 2015 )
Klasifikasi
bakteri Bacillus cereus
Domain :
Bacteria
Phylum : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Spesies : Bacillus cereus

Gambar.2.4. Bakteri Bacillus cereus
B.
TINJAUAN
UMUM TENTANG DAGING
Daging merupakan salah satu komoditi peternakan yang
dibutuhkan untuk memenuhi protein hewani asal ternak, protein daging mengandung
susunan asam amino yang lengkap. namun demikian, daging merupakan produk
peternakan yang sangat rentan terhadap kontaminasi mikroba. Hal ini disebabkan
karena daging mempunyai pH dan kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan
mikroba.( Dewi, 2012 )
Daging merupakan makanan yang
kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak serta zat yang lain yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh. Daging sapi dianggap pilihan yang paling popular dari
semua daging merah (Nasrul Haq, Dkk,
2015 ).
Daging adalah satu atau sekelompok otot yang
mengalami perubahanperubahan biokimia dan biofisik setelah ternak disembelih.
Daging merupakan sumber protein hewani yang tinggi, disamping itu daging juga
sebagai sumber zat besi dan sumber vitamin B kompleks. Protein daging dapat
membantu merangsang dinding usus dalam penyerapan mineral-mineral. Daging dapat
didefenisikan sebagai bagian tubuh ternak yang tersusun dari satu atau
sekelompok otot, dimana otot tersebut telah mengalami perubahan-perubahan
biokimia dan biofisik setelah ternak tersebut disembelih. Daging terdiri dari 3
komponen utama yaitu jaringan otot, jaringan ikat, dan jaringan lemak. Komponen
lainnya berupa tulang, jaringan pembuluh darah, dan jaringan syaraf. ( Harun, 2015 )
Beberapa manfaat daging yaitu sebagai sumber zat
besi (Fe), dapat membantu/merangsang dinding usus menyerap mineral-mineral, dan
sumber vitamin B kompleks (terutama B12) Daging sapi mempunyai kandungan zat
besi yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi yang ada pada sayuran
atau makanan olahan. Zat besi penting untuk pengangkutan oksigen, produksi
energi, dan perkembangan otak. Zat besi bisa melancarkan aliran listrik di dalam
otak. Zat itu bekerja sama dengan omega 3 dan vitamin B12. Protein hewani pada
daging sapi juga dapat mempercepat pertumbuhan seseorang, meningkatkan daya
tahan tubuh, dan meningkatkan nalar serta berpengaruh terhadap tingkat
kecerdasaan. Selain protein tersebut, lemak juga bermanfaat bagi tubuh manusia
sebagai sumber energi/tenaga, membantu menghemat protein dan thiamin dalam
tubuh, serta membuat rasa kenyang yang lebih lama (Harun, 2015 ).
Daging adalah merupakan bahan pangan yang diperoleh
dari hasil penyembelihan hewan-hewan ternak atau buruan. Hewan-hewan yang
khusus diternakkan sebagai penghasil daging adalah berbagai spesies mamalia
seperti sapi, kerbau, kambing domba dan babi dan berbagai spesies unggas
seperti ayam, kalkun dan bebek atau itik.( Koswara, 2009 )
Daging sapi adalah urat daging yang melekat pada
kerangka, kecuali urat daging dari bagian bibir, hidung dan telinga yang
berasal dari sapi yang sehat sewaktu dipotong. Daging sebagai semua jaringan
hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai
untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang mengkonsumsi
atau memakannya. Organ-organ seperti hati, ginjal, otak, paru-paru, jantung,
limpa, pankreas, dan jaringan otot lainnya termasuk dalam definisi daging.
Komposisi daging terdiri atas 75% air, 19% protein, 3,5% substansi nonprotein
yang larut, dan 2,5% lemak. Substansi nonprotein yang larut terdiri dari
karbohidrat, vitamin dan mineral dalam daging. Protein memiliki fungsi untuk
memperbaiki dan membantu pertumbuhan struktur jaringan dan jaringan aktif yang
ada didalam tubuh. ( Rahmawati,2012 )
C.
TINJAUAN
UMUM TENTANG DENDENG
Dendeng
merupakan bahan makanan semi basah yang biasanya terbuat dari daging atau ikan,
berbentuk tipis dan lebar, dibumbui dan dikeringkan. Dendeng dapat dimakan
tanpa rehidrasi dan tidak memberikan rasa kering pada produk. (El Husna, Dkk,
2014 )
Dendeng adalah produk tradisional dari Indonesia dan
dari negara-negara seluruh Asia Tenggara. Dendeng dapat dibuat dari daging
sapi, ayam, babi atau kambing, tetapi yang paling banyak dijumpai di
pasar-pasar di Indonesia adalah dendeng sapi. Definisi dendeng sapi menurut
Standar Nasional Indonesia 01-2908-2008 adalah produk makanan berbentuk
lempengan yang terbuat dari irisan atau gilingan daging sapi segar yang berasal
dari sapi sehat yang telah diberi bumbu dan dikeringkan. Dendeng merupakan
salah satu produk daging kering yang memiliki masa simpan lebih dari 6 bulan
dengan kadar air kira- kira 15% sampai 20% dan pH 4,5-5,1. Warna dendeng yang
coklat kehitaman disebabkan oleh reaksi pencoklatan selama proses pemanasan.
Reaksi tersebut dapat menimbulkan rasa atau flavor yang pahit. (Rahmawati,2012
)
)
Gambar.2.5.Dendeng
Asap
Dendeng
merupakan produk daging olahan khas Indonesia yang tergolong dalam bahan pangan
semi basah yang mengandung gula merah, garam dan bumbu rempah-rempah. Dendeng
dapat dibuat dari bentuk sayatan tipis (dendeng sayat) atau daging giling
(dendeng giling). Dendeng memiliki rasa yang manis yang dikarenakan karena
kandungan gulanya yang tinggi dan bersamaan dengan flavor yang kuat yang berasal
dari bumbu rempah-rempah memberikan karakteristik aroma yang berbeda dengan
produk lainnya. Komposisi nutrisi dalam dendeng, kadar air 26%; protein 35%;
lemak 10%; garam 8% dan gula 35% Produk daging semi basah memiliki kandungan
kadar air sebesar 15% sampai 50%, dan daging yang dikeringkan mengandung kadar
air yang lebih rendah. Nilai aktivitas air (aw) berkisar 0,60-0,92.
(Rahmawati,2012 )
Dendeng dapat dibuat dari berbagai jenis daging
ternak. Dendeng yang umum dijumpai dipasaran adalah dendeng sapi, namun
belakangan ini mulai dikenal dendeng ayam, ikan, udang, bekicot, dan bahkan
keong emas. Dendeng tergolong bahan makanan semi basah (intermediate moisture
food), yaitu bahan pangan yang mempunyai kadar air tidak terlalu tinggi dan
juga tidak terlalu rendah, yaitu antara 15-50%. Istilah dendeng sering
digunakan pada “dry cured meat” yang mempunyai ciri bahan pangan dengan
kelembaban rendah dan kadar protein tinggi. Penurunan kadar air tersebut dapat
dicapai dengan penggunaan suhu tinggi pengolahan dan atau penggunaan bahan
pengawet. (Purnamasari, Dkk, 2013 )
Dendeng
termasuk makanan yang dibuat dengan cara pengeringan. Kandungan air dendeng
antara 15 sampai 50 persen, bersifat plastis dan tidak terasa kering. Dendeng
perlu direndam air, lalu dimasak terlebih dulu sebelum dikonsumsi.Pembuatan
dendeng yang biasa dilakukan terdiri dari tahap-tahap berikut : persiapan
bahan, pengirisan atau penggilingan, pemberian bumbu, pencetakan (untuk dendeng
giling), dan pengeringan. Persiapan meliputi pemilihan daging dan pembersihan
dari kotoran dan lapisan lemak maupun urat. Pengirisan dimaksudkan untuk
memperluas permukaan daging sehingga pengeringan akan cepat. Sedangkan
penggilingan akan memudahkan pencampuran bumbu hingga homogen dan daging mudah
dibentuk. Pengeringan dendeng bisa dilakukan dengan penjemuran maupun
menggunakan oven hingga mencapai kadar air tertentu.( Koswara, 2009 )
Produk dendeng lebih tahan
lama tanpa pendinginan atau dengan proses pemanasan, dan beberapa dapat
langsung dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Produk daging kering
ini biasanya lebih resisten terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh bakteri
karena rendahnya aktivitas air (aw) dan kandungan garam yang cukup tinggi.
D.
TINJAUAN
UMUM TENTANG PENGASAPAN
Pengasapan merupakan salah
satu cara menghambat laju proses
pembusukan yaitu untuk mengurangi kadar air sehingga bakteri pembusuk tidak akan cepat aktif
lagi dan hasil produksi dapat disimpan
lebih lama. ( Komar , 2009 )
Pengasapan adalah salah satu cara
pengolahan pangan yang telah lama dikenal dan merupakan suatu usaha pengawetan
disamping dapat memberikan cita rasa yang khas pada produk asap. Pengasapan
biasanya dilakukan terhadap produk daging dan ikan yang didahului dengan proses
curing. Curing adalah salah satu cara perlakuan pendahuluan pada daging sebelum
dilakukan proses-proses pengawetan selanjutnya, dan cara tersebut meliputi
penambahan campuran bahan seperti garam, gula dan bumu-bumbu lain seperti
kunyit, lada, asam dan lain-lain. Melalui proses pengasapan terhadap daging
dapat menjadi masak oleh panas dai api juga asap dari kayu yang dibakar akan
memberikan bau enak serta menurunkan kadar air produk yang merupakan media yang
baik untuk pertumbuhan mikroba. ( M. Untu, 2013 )
Pengasapan adalah salah satu cara
memasak, memberi aroma, atau proses pengawetan makanan, terutama daging dan
ikan. Bahan pangan diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari
pembakaran kayu, dan tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang
atau terbakar. Pengasapan sudah sejak lama dilakukan oleh petani ikan atau
nelayan di negara kita. Ada dua cara pengasapan yaitu cara tradisional dan cara
dingin. Pada cara tradisional, asap dihasilkan dari pembakaran kayu atau
biomassa lanilla (misalnya sabuk kelapa, serbuk akasia, dan serbuk mangga).
Pada cara dingin, bahan direndam di dalam asap yang sudah di cairkan. Setelah
senyawa asap menempel 20 pada ikan, kemudian ikan dikeringkan. Walaupun mutunya
kurang bagus dibanding pengasapan dingin, pengasapan tradisional paling mudah
diterapkan oleh industri kecil. ( Himawati, 2010 )
Pengasapan adalah proses pengawetan
daging menggunakan kombinasi panas dan
bahan kimia yang dihasilkan dari pembakaran kayu kayu keras. Kayu keras
menghasilkan asap berkualitas baik dan asap yang dihasilkan banyak, dan umumnya
mengandung 40–60% selulosa, 20–30% hemiselulosa dan 20–30% lignin. Kandungan
yang terdapat pada asap adalah asam formiat, asetat, butirat, kaprilat, vanilat
dan asam siringat, dimetoksifenol, metal glioksal, furfural, methanol, etanol,
oktanol, asetaldehid, diasetil, aseton, dan 3,4- benzinpiren. Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam
asap mempunyai efek bakteriostatik, bakteriosidal dan menghambat oksidasi
lemak. Fenol mempunyai efek menyerupai antioksidan BHA (Butil Hidroksianisole)
dan PG (Profilgalat) yang menghambat reaksi oksidasi. Pada proses pengasapan,
fenol dapat berpengaruh terhadap daya awet, warna dan rasa suatu produk.
Unsur-unsur fenol dan asam organik adalah dua unsur yang paling banyak melekat
pada produk pengasapan dan mengsilkan warna yang khas pada daging. ( Imam
Thohari, Dkk, 2013 )
Tujuan pengasapan antara lain untuk
meningkatkan flavor dan penampakan permukaan produk yang menarik. Daging atau
ikan yang diasap ditujukan untuk mengawetkan dan menambah cita rasa. Disamping itu
pengasapan juga dapat menghambat oksidasi lemak dalam bahan pangan tersebut.
Pengasapan dilakukan dengan menggunakan kayu keras yang mengandung bahan-bahan
pengawet kimia yang berasal dari pembakaran selulosa dan lignin, misalnya
formaldehid, asetaldehid, asam karboksilat (asam formiat, asetat dan butirat),
fenol, kresol, alkohol-alkohol primer dan sekunder, keton dll. Zat-zat yang
terdapat dalam asap ini dapat menghambat aktivitas bakteri (bakteriostatik).
Asap mengandung senyawa fenol dan formaldehida, masing-masing bersifat
bakterisida (membunuh bakteri). Kombinasi kedua senyawa tersebut juga bersifat
fungisida (membunuh kapang). Kedua senyawa membentuk lapisan mengkilat pada
permukaan daging. Asap juga mengandung uap air, asam formiat, asam asetat, keton
alkohol dan 4 karbon dioksida. Rasa dan aroma khas produk pengasapan terutama
disebabkan oleh senyawa fenol (guaiacol, 4- mettyl-guaiacol, 2,6-dimetoksi 1
fenol) dan senyawa karbonil. ( Himawati, 2010 )
E.
Kerangka
Konsep
Dendeng adalah produk makanan berbentuk
lempengan yang terbuat dari irisan atau gilingan daging sapi segar yang berasal
dari sapi sehat yang telah diberi bumbu dan dikeringkan dendeng dapat dibuat
dari daging sapi, ayam, babi atau kambing, tetapi yang paling banyak dijumpai
di pasar-pasar di Indonesia adalah dendeng sapi. Namun bahan pangan seperti
Dendeng ini dapat bertindak sebagai perantara pertunbuhan bakteri pathogen yang
dapat membuat keracunan pada makanan.
Gangguan-gangguan kesehatan,
seperti infeksi baik itu infeksi local ataupun infeksi sistemik. Bakteri
cemaran adalah jumlah bakteri pathogen yang mengontaminasi makanan. Sesuai
dengan SNI tahun 2009, setiap bahan pangan mempunyai batas cemaran mikroba.
Sama halnya dengan Dendeng ini, memiliki batas cemaran mikroba yaitu 1 × 105
koloni/gram.
:
Yang tidak diteliti
(
2.6. Kerangka Konsep )
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang dilakukan adalah experiment
laboratorik, melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kualitas
mikrobilogi pada dendeng sapi dari hari pertama setelah pengasapan sampai hari
ke 7 setelah pengasapan.
B.
Lokasi
dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
penelitian direncanakan dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas
Hasanuddin Makassar.
2. Waktu
penelitian dilaksanakan pada tanggal bulan Juni 2017.
C.
Populasi,
Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi
pada penelitian ini adalah dendeng sapi asap dengan pengasapan tempurung kelapa
dan dendeng sapi asap dengan pengasapan serbuk kayu yang disimpan dari hari
pertama sampai hari ke 7 setelah pengasapan,
2. Sampel
Sampel
pada penelitian ini adalah dendeng sapi dengan pengasapan tempurung kelapa
dan pengasapan serbuk kayu.
3. Teknik
pengambilan sampel pada penelitian ini adalah random sampling. Randong sampling adalah setiap anggota dari
populasi memiliki kesempatan peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel.
D.
Variabel
Penelitian
1. Variabel
bebas
Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah Mikroorganisme.
2. Variabel
terikat
Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah Dendeng sapi dengan pengasapan tempurung kelapa dan
dendeng sapi dengan pengasapan serbuk kayu.
E.
Definisi
Oprasional
1. Microbiology
adalah cabang biologi yang mempelajari mikroorganisme. Mikrobiologi adalah
cabang ilmu biologi yang berkaitan dengan mikroorganisme, termasuk virus,
bakteri, protozoa, ganggang tertentu dan jamur. Mikrobiologi
mempelajari struktur dan fisiologi mikroorganisme dan efek yang mereka miliki
di lingkungan mereka. Selain itu, Mikrobiologi juga memainkan peran dalam
pengobatan, kesehatan masyarakat, industri makanan dan obat, serta pertanian.
2. Dendeng
adalah produk tradisional dari Indonesia dan dari negara-negara seluruh Asia
Tenggara. Dendeng dapat dibuat dari daging sapi, ayam, babi atau kambing,
tetapi yang paling banyak dijumpai di pasar-pasar di Indonesia adalah dendeng
sapi.
F.
Alat
dan Bahan
a. Alat
:
Wadah steril,
incubator, bunsen, mikroskop, tabung reaksi, erlenmeyer, autoclavo, rak tabung,
cawan petri, neraca analitik, sendok tandu, magnetic stirrer, pisau, objek
glass, pipet tetes, label, spidol, ose, korek api, kapas, plastic stomacher.
b. Bahan
:
Dendeng
sapi, oil imersi, NaCl 0,9%, Natrium
Agar ( NA ), Blood Agar ( BA ), Manitol Salt Agar ( MSA ), Aquadest, kapas,
almunium foil, Carbol fuchsin, carbol gentian violet, lugol, alkohol 96%, Urea, Sitrat, Kliger Iron Agar (
KIA ), Methyl Red ( MR ), Voges Proskauer ( VP ), Kovac, Alfa naftol 5%, KOH 40%,
Media Fermentasi Karbohidrat : Glukosa,
Sukrosa, Manitol, Laktosa.
G.
Prosedur
Kerja
1.
Pengambilan Sampel
Dipotong dan timbang
sampel sebanyak 30 gram kemudian
dimasukkan kedalam botol sampel steril.
2. Pengenceran
Sampel
a. Dipotong-potong
hingga halus dan kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 10 ml
b. Dilakukan
seri pengenceran dengan cara diambil 1 ml cairan hasil rendaman dendeng
kemudian dimasukkan ke dalam botol steril lainnya yang telah diisi dengan 9 ml
aquadest ( untuk pengenceran 10-1 )
c. Kemudian
dari botol pengencerean 10-1, diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam
botol steril lainnya yang telah diisi 9 ml aquadest ( untuk pengenceran 10-2
)
d. Dari
botol pengenceran 10-2, diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam botol
steril lainnya yang telah diisi 9 ml aquadest ( untuk pengenceran 10-3
)
e. Dilakukan
pengenceran hingga pengenceran 10-9 dengan langkah-langkah yang sama
pada pengenceran 10-2 dan 10-3
3. Penanaman
pada Media Natrium Agar
a. Pada
3 seri pengenceran terakhir yakni pada pengenceran 10-7, 10-8
dan 10-9, selanjutnya dimasukkan sebanyak 1 ml pada masing-masing
pengenceran tersebut dan dimasukkan ke dalam medium Natrium Agar dengan
menggunakan metode tuang
b. Diinkubasi
pada suhu 37oC selama 24 jam
c. Setelah
diinkubasi dilakukan perhitungan jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada medium
Natrium Agar
d.
Tes positif jika koloni yang tumbuh
berukuran kecil-sedang, smooth, koloni berwarna kuning dengan zone yang berwarna kuning juga
4.
Pembuatan preparat
a. Dengan
menggunakan ose diambil NaCl 0,9 % steril, diletakan dibagian tengah kaca objek
b. Diambil
kuman pada biakan bakteri media Nutrient Agar, kemudian masing-masing dicampur
dengan NaCl 0,9 % hingga merata dan diperoleh sedian tipis
c.
Preparat dibiarkan kering kemudian
difiksasi diatas nyala api
5. Pengecetan
gram
a.
Preparat yang telah difiksasi diletakkan
diatas rak pewarna
b.
Dicat dengan larutan karbol gentian
violet selama 2-3 menit
c.
Dibilas dengan air mengalir
d.
Diberikan larutan lugol selama 1 menit
e.
Sediaan dilunturkan dengan alcohol 96 %
sampai zat warna hilang
f.
Dicat dengan air fuchsin
g.
Dibilas dengan air mengalir kemudian
dikeringkan
h.
Berikan 1 tetes oil emersi, kemudian
diperiksa pada mikroskop dengan lensa objektif 100x
i.
Gram negative, jika hasil berwarna
merah.Gram positif jika berwarna ungu
6.
Uji Biokimia MSA
a. Uji
Katalase
1)
Diambil
koloni yang tumbuh dari media NA
2)
Dioleskan
koloni pada objek glass yang telah difiksasi.
3)
Diteteskan
larutan H2O2 atau hidrogen peroksida.
4)
Diamati
ada atau tidaknya gelembung pada objek glass.
b. Uji
Oksidase
1)
Diambil
koloni yang tumbuh dari media NA
2)
Dioleskan
koloni pada kertas saring.
3)
Diteteskan
larutan oksidasi pada koloni.
4)
Diamati
perubahan warna pada kertas saring.
c. Penanaman
pada media KIA
1) Diambil
1-2 koloni dari media NA yang tumbuh dengan menggunakan nald kemudian
diinokulasi kedalam media KIA dengan cara menusukan ose sampai kedasar media
KIA, kemudian digoreskan secara zig-zag pada permukaan media
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 24 jam
3) Alkali-Acid
( lereng berwarna merah dan dasar berwarna kuning ). Acid-acid ( jika lereng
berwarna kuning dan dasar berwarna kuning ). H2S ( Sulfur ) positif
jika terbentuk warna hitam. Gas positif jika agar pada bagian dasar pecah atau
ada gelembung
d. Penanaman
pada media MSA
1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Diambil koloni lalu di tanam pada media MSA dengan cara
digores.
3) Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C
e. Tes
pada media MIO
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
MIO dengan menusukkan tegak lurus kedalm hingga mencapai dasar tabung
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Ditambahkan
beberapa tetes reagen Kovac kedalam media
4) Pertumbuhan
pada media MIO adalah sebagai berikut :
Ø Motility : jika pertumbuhan bakteri hanya pada bekas
tusukan berrati tes negative, pertumbuhan yang menyebabkan kekeruhan sebagian
besar dari medium menunjukan positf
Ø Indol : ditambah reagen kovac sebanyak 0,25 ml
kedalam MIO, kocok pelan, apabila terbentuk cincingberwarna ungu merah berarti
positif
Ø Ornitin : positif bila terdapat warna ungu pada media
f. Tes
pada media Methyl Red ( MR )
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Ditambahkan
2-3 tetes regen Methyl Red
4) Tes
positif jika terjadi warna merah
g.
Tes pada Voges Proskauer ( VP )
1)
Diambil satu koloni pada media KIA
dengan menggunkan nald dan diinokulasi dalam media
2)
Diinkubasi pada suhu 37o C
selama 12 jam
3)
Ditambahkan 0,6 ml α-naftol 5 % 0,2 ml
KOH 40 % dan kocok pelan sampai tercampur
4)
Dibiarkan selam 13 menit. Tes positif
jika terjadi warna merah
h. Tes
Simmon Citrate
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam medium
sitrat
2) Diinukubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Hasil
posistif jika terjadi perubahan warna dari merah jingga ke merah ungu
i. Tes
Urea
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
miring
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Hasil
positif jika terjadi perubahan warna dari merah jingga ke merah ungu
j.
Tes pada media gula-gula
1) Disterilkan
ose lalu ambil bakteri pada media KIA dengan menggunakan satu mata ose dan
diinokulasi pada media Glukosa, Sukrosa, Laktosa, dan Manitol dengan cara
diaduk
2) Hasil
pengamatan : hasil positif didapatkan pada Glukosa, Sukrosa, laktosa, dan
Manitol, dengan adanya perubahan warna indicator yang terdapat dalam media ini
yaitu merah menjadi kuning. Perubahan warna tersebut disebabkan karena bakteri
yang tumbuh didalamnya mampu memfermentasikan gula-gula tersebut berupa produk
asam.
7. Uji
Biokimia BA
a. Uji
Katalase
1)
Diambil
koloni yang tumbuh dari media NA
2)
Dioleskan
koloni pada objek glass yang telah difiksasi.
3)
Diteteskan
larutan H2O2 atau hidrogen peroksida.
4)
Diamati
ada atau tidaknya gelembung pada objek glass.
b.
Uji
Oksidase
1)
Diambil
koloni yang tumbuh dari media NA
2)
Dioleskan
koloni pada kertas saring.
3)
Diteteskan
larutan oksidasi pada koloni.
4)
Diamati
perubahan warna pada kertas saring.
c. Penanaman
pada media KIA
1) Diambil
1-2 koloni dari media NA yang tumbuh dengan menggunakan ose kemudian
diinokulasi kedalam media KIA dengan cara menusukan ose sampai kedasar media
KIA, kemudian digoreskan secara zig-zag pada permukaan media
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 24 jam
3) Alkali-Acid
( lereng berwarna merah dan dasar berwarna kuning ). Acid-acid ( jika lereng
berwarna kuning dan dasar berwarna kuning ). H2S ( Sulfur ) positif
jika terbentuk warna hitam. Gas positif jika agar pada bagian dasar pecah atau
ada gelembung
d. Uji
BA
1) Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2) Diambil koloni lalu di tanam pada media BA dengan cara
digores.
3) Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C
e. Tes
pada media MIO
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
MIO dengan menusukkan tegak lurus kedalm hingga mencapai dasar tabung
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Pertumbuhan
pada media MIO adalah sebagai berikut :
Ø Motility : jika pertumbuhan bakteri hanya pada bekas
tusukan berrati tes negative, pertumbuhan yang menyebabkan kekeruhan sebagian
besar dari medium menunjukan positf
Ø Indol : ditambah reagen kovac sebanyak 0,25 ml
kedalam MIO, kocok pelan, apabila terbentuk cincingberwarna ungu merah berarti
positif
Ø Ornitin : positif bila terdapat warna ungu pada
media
f. Tes
pada media Methyl Red ( MR )
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Ditambahkan
2-3 tetes regen Methyl Red
4) Tes
positif jika terjadi warna merah
g.
Tes pada Voges Proskauer ( VP )
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunkan nald dan diinokulasi dalam media
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Ditambahkan
0,6 ml α-naftol 5 % 0,2 ml KOH 40 % dan kocok pelan sampai tercampur
4) Dibiarkan
selam 13 menit. Tes positif jika terjadi warna merah
h. Tes
Simmon Citrate
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam medium
sitrat
2) Diinukubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Perubahan
warna dari merah jingga ke merah ungu
i. Tes
pada Agar Urea ( Agar Miring )
1) Diambil
satu koloni pada media KIA dengan menggunakan nald dan diinokulasi dalam media
miring
2) Diinkubasi
pada suhu 37o C selama 12 jam
3) Perubahan
warna dari merah jingga ke merah ungu
j.
Tes pada media gula-gula
1) Disterilkan
ose lalu ambil bakteri pada media KIA dengan menggunakan satu mata ose dan
diinokulasi pada media Glukosa, Sukrosa, Laktosa, dan Manitol dengan cara
diaduk
2) Hasil
pengamatan : hasil positif didapatkan pada Glukosa, Sukrosa, laktosa, dan
Manitol, dengan adanya perubahan warna indicator yang terdapat dalam media ini
yaitu merah menjadi kuning. Perubahan warna tersebut disebabkan karena bakteri
yang tumbuh didalamnya mampu memfermentasikan gula-gula tersebut berupa produk
asam.
H. Alur Penelitian
( 3.1 Skema Alur Penelitian )
I.
Analisa
Data
Pada penelitian
ini, hasil penelitian yang diperoleh dari hasil pemeriksaan dan pengamatan yang
disajikan dalam bentuk table dan dijelaskan secara deskriptif.
Komentar
Posting Komentar